Sabang|BidikIndonesia.com – Kabar duka menyelimuti warga Sabang. Thomas Kurniawan, generasi ketiga sekaligus pemilik sekaligus koki Kedai Mie sedap di Jalan Perdagangan, Kota Sabang, meninggal dunia. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu kuliner legendaris yang telah mewarnai cita rasa masyarakat dan wisatawan selama lebih dari 30 tahun.
Kedai Mie sedap bukanlah sekadar tempat makan biasa. Sejak pertama kali didirikan pada tahun 1970-an oleh seorang pria keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Sabang, kedai ini menjadi ikon kuliner yang tak tergantikan. Resep turun-temurun diwariskan kepada anak, hingga akhirnya sampai ke tangan Thomas Kurniawan.
Sebelum mengambil alih, Thomas lebih dulu mempelajari dengan saksama teknik dan racikan dari sang ayah, sehingga cita rasa khas yang ditinggalkan tidak pernah berubah dari masa ke masa.
“Bumbu dan bahan yang digunakan sangat sederhana seperti bawang putih, merica, kecap asin, dan kecap manis. Tapi sampai saat ini belum ada yang bisa meniru,” kata Murni salah satu warga Sabang.
Keunikan Mie sedap terletak pada kesederhanaannya. Dalam seporsi mie goreng, tersaji potongan ikan yang telah diolah dengan tepung dan bumbu khas Nusantara. Bentuknya kotak-kotak kecil berwarna cokelat pekat, berpadu sempurna dengan mie yang gurih dan harum.
Menariknya, untuk bisa menikmati satu porsi mie legendaris ini, pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp15 ribu saja. Harga yang sangat terjangkau untuk sebuah kuliner yang selalu menjadi incaran wisatawan.
Bagi warga Sabang dan wisatawan, Mie sedap bukan sekadar hidangan, tetapi kenangan. Setiap porsi menghadirkan nostalgia yang sama, dari generasi ke generasi. Banyak pelancong yang menyebut bahwa kunjungan ke Sabang terasa belum lengkap tanpa singgah di Kedai Mie sedap.
Namun kini, dengan berpulangnya Thomas Kurniawan, muncul pertanyaan besar di tengah masyarakat, apakah Kedai Mie sedap akan tetap buka, dan jika iya, apakah rasa otentiknya akan tetap sama tanpa kehadiran sang maestro di dapur?
Warga Sabang berterima kasih atas pengabdian dan kehangatan yang diberikan melalui sepiring mie yang selalu menggugah selera.
“Terima kasih sudah menemani warga Sabang dan wisatawan selama lebih dari 30 tahun di bidang per-mie-an,” demikian ucapan perpisahan yang banyak beredar di media sosial.
Mie Sedap kini tinggal cerita, tetapi kenangannya akan terus hidup di hati masyarakat dan wisatawan yang pernah merasakannya.(*)







