IPARI Banda Aceh Dorong Penyuluh Berdakwah Melalui Tulisan Banda Aceh

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Sebanyak 45 penyuluh agama mengikuti Workshop Penulisan Pers Rilis dan Jurnalisme Warga yang digelar Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (PD IPARI) Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Banda Aceh, Senin 28 Sptember 2026, di Aula Kankemenag Kota Banda Aceh. Dari kegiatan tersebut, lima penyuluh telah mampu mempraktikkan langsung teknik penulisan yang dipelajari.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30 hingga 12.30 WIB ini menghadirkan Yarmen Dinamika, tenaga profesional sekaligus Redaktur Serambi Indonesia, sebagai pemateri. Workshop bertujuan memperkuat kemampuan penyuluh dalam mendokumentasikan kegiatan kepenyuluhan dan menyampaikan praktik baik di masyarakat melalui tulisan.

Kepala Kankemenag Kota Banda Aceh, Dr. H. Salman, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya kemampuan menulis bagi penyuluh. Menurutnya, berbagai aktivitas pembinaan dan pendampingan yang dilakukan di tengah masyarakat perlu didokumentasikan agar manfaatnya dapat diketahui lebih luas.

Ketua PD IPARI Kota Banda Aceh, Hj. Rosmiati, S.Ag., M.Sos., mengatakan bahwa menulis merupakan bagian dari peningkatan kapasitas penyuluh. Berbagai kegiatan kepenyuluhan tidak cukup hanya dilaksanakan, tetapi juga perlu dicatat dan disampaikan agar menjadi informasi, inspirasi, serta rekam jejak pelayanan.

“Harapannya, para penyuluh mampu meningkatkan kapasitas kepenyuluhan dalam bentuk tulisan,” ujar Rosmiati.

Bacaan Lainnya

Senada dengan itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kankemenag Kota Banda Aceh, Dr. H. Akhyar, M.Ag., mengingatkan bahwa dakwah penyuluh tidak hanya melalui lisan. Perkembangan zaman menuntut penyuluh mampu menyampaikan pesan keagamaan dan pembangunan melalui berbagai media secara bijaksana.

“Tidak hanya berdakwah dengan lisan, ke depan juga bagaimana menyampaikan pesan dengan hikmah dan kalam,” ujarnya.

Pesan tentang makna dan dampak kepenyuluhan juga disampaikan Dra. Hj. Evi Sri Rahayu, Kepala Tim Penyuluh Aceh. Ia mengingatkan agar penyuluh tidak hanya menghitung jumlah kegiatan yang telah dilaksanakan, tetapi juga memperhatikan sejauh mana masyarakat di wilayah binaan mengalami perubahan. Menurutnya, keberhasilan penyuluhan tidak berhenti pada penyampaian materi. Pesan yang diberikan harus dipahami, diamalkan, dan kemudian disebarkan kepada orang lain.

“Apapun yang disampaikan, harus dipahami dan diamalkan, baru lalu disebarkan,” pesannya.

Evi juga mengingatkan bahwa penyuluh sebagai pejabat fungsional memiliki peran pada berbagai lini kehidupan masyarakat. Karena itu, pelaksanaan tugas perlu didukung dokumentasi yang baik dan terarah. Penyusunan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) perlu selaras dengan ruang lingkup tugas penyuluhan sehingga pekerjaan, hasil, dan bukti kinerja memiliki keterkaitan yang jelas.

Selain itu, para penyuluh diingatkan untuk memperhatikan kelengkapan administrasi dan pemutakhiran data kepegawaian, termasuk pemeriksaan data pada SIMPEG serta platform kepegawaian terkait sesuai ketentuan.

Pada sesi materi, Yarmen Dinamika membekali peserta dengan pemahaman mengenai cara menemukan sudut pandang berita, memilih fakta penting, menyusun informasi, hingga menulis pers rilis yang mudah dipahami masyarakat.

Tidak hanya menerima materi, peserta juga mendapatkan kesempatan mempraktikkan langsung teknik penulisan. Dari 45 penyuluh yang hadir, lima orang telah mampu mempraktikkan materi yang diberikan.

Praktik ini menjadi langkah awal agar kemampuan menulis tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan dalam pekerjaan kepenyuluhan sehari-hari.

Melalui jurnalisme warga, penyuluh didorong untuk lebih peka melihat berbagai peristiwa di lingkungan binaan. Perubahan kecil dalam kehidupan masyarakat, praktik baik keluarga, kegiatan pemberdayaan, hingga tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi bahan tulisan yang memiliki nilai informasi.

Satu kegiatan kepenyuluhan juga dapat diolah menjadi berbagai bentuk konten, seperti berita, foto, kutipan, dan video pendek. Dengan demikian, dokumentasi tidak hanya menjadi laporan administrasi, tetapi juga sarana berbagi pengalaman dan memperluas jangkauan pesan keagamaan serta pembangunan.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya PD IPARI Kota Banda Aceh memperkuat kapasitas komunikasi penyuluh. Melalui kemampuan menulis, pengalaman dan praktik baik di wilayah binaan diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Sebab, tugas penyuluh tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga mendampingi perubahan. Dan melalui tulisan, pengalaman baik tersebut dapat dicatat, dibagikan, serta menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *