Harapan Pelajar Sawang Pupus, Satu-satunya Rakit Penyeberangan Hanyut Terbawa Arus

Aceh Utara|BidikIndonesia.com – Banjir bandang yang melanda Kecamatan Sawang, Aceh Utara pada November 2025 telah memutus akses jembatan penyeberangan menuju empat gampong di seberang sungai.

Harapan anak-anak di seberang Sungai Sawang, Kabupaten Aceh Utara, untuk kembali bersekolah setelah bencana banjir bandang, kembali pupus.

Rakit sederhana yang menjadi satu-satunya sarana penyeberangan hanyut terbawa arus deras pada Selasa (6/q/2026) dini hari.

Padahal sehari sebelumnya, rakit kayu seadanya itu telah berjasa mengantarkan puluhan pelajar dari Gampong Gunci, Lhok Cut, Kubu, dan Blang Cut menuju sekolah mereka di pusat Kecamatan Sawang.

Rekaman video yang dikirimkan oleh Khairunisak, warga Dusun Kuta Batee, memperlihatkan perjuangan anak-anak menyeberangi sungai dengan rakit tersebut pada hari pertama masuk sekolah, Senin (5/1/2026).

Bacaan Lainnya

Namun, video terbaru dari lokasi yang sama menunjukkan pemandangan berbeda, rakit yang sehari sebelumnya menjadi jembatan harapan, kini hanyut terbawa arus deras, membuat para pelajar terpaksa kembali absen.

Kondisi ini semakin memperburuk situasi pendidikan di wilayah tersebut.

Sejak banjir besar pada 26 November 2025, seluruh akses utama berupa jembatan penyeberangan menuju empat desa di seberang Sungai Sawang telah putus. Akibatnya, warga hanya bisa bergantung pada rakit darurat untuk beraktivitas, termasuk anak-anak yang ingin bersekolah.

Kecamatan Sawang sendiri merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Aceh Utara yang dulu dikenal sebagai daerah kaya minyak dan gas alam.

Kini, daerah tersebut menghadapi tantangan berat akibat bencana alam yang membuat sejumlah desa terisolasi.

Berjarak sekitar 245 kilometer dari Banda Aceh dan 30 kilometer dari Lhokseumawe –kota yang dulu dijuluki “petro dolar”– Sawang kini seakan terputus dari akses vital.

Ketiadaan sarana penyeberangan yang memadai tidak hanya menghambat aktivitas pendidikan, tetapi juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.

Anak-anak yang seharusnya bisa kembali belajar setelah libur panjang akibat banjir, kini harus menunggu solusi dari pemerintah maupun pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *