Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Warga Gampong Lamdom, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Mukhtaruddin Yakob, mengeluhkan pasokan air bersih dari Perumdam Tirta Daroy yang sudah beberapa hari berhenti mengalir di rumahnya. Kondisi ketiadaan air di pipa instalasi perusahaan air minum daerah itu bahkan membuat mesin pompa airnya terbakar.
“Sudah hari ketiga pasokan air ke tempat kami berhenti. Sampai pompa air terbakar,” ungkap Mukhtaruddin Yakob.
Kondisi tersebut turut dinarasikan Mukhtaruddin Yakob di akun media sosial Facebook. Dalam postingan itu, Mukhtaruddin bahkan meminta bantuan dari manajemen PDAM Tirta Daroy dan Wali Kota Banda Aceh untuk mengantisipasi kelangkaan air bersih.
“Kami menyampaikan ini karena salah satu janji ibu Illiza Sa’aduddin saat kampanye adalah membenahi PDAM Tirta Daroy…,” tulis Mukhtaruddin lagi, seraya mencantumkan nama Ketua DPRK Banda Aceh, Irwansyah, dalam postingannya tersebut.
Beberapa hari kemudian, Rabu, 24 September 2025, Mukhtaruddin kembali mengungkapkan kekecewaannya di akun Facebook tentang PDAM yang kini berganti nama menjadi Perumdam Tirta Daroy. Dia menyebut pergantian nama perusahaan air minum daerah itu tak membawa perubahan berarti dalam pelayanan air bersih kepada pelanggan.
“Pasokan air bersih kembali terhenti tanpa jelas alasannya. Kiban (bagaimana) bunda Illiza Sa’aduddin, Ketua DPRK Banda Aceh @irwansyah dan bapak Ampon Teuku Novizal Aiyub,” tulis Mukhtaruddin lagi.
Mukhtaruddin membenarkan bahwa hingga hari ini aliran air bersih dari Perusahaan Tirta Daroy ke rumahnya masih bermasalah. Padahal, menurut Mukhtaruddin, petugas sudah pernah datang untuk menangani keluhannya tersebut.
“Baru ditangani saja hidup airnya, setelah itu mati lagi. Semalam baru hidup, pukul 03.00 WIB. Pagi mati lagi. Ini pun sedang mati,” beber Mukhtaruddin dalam bahasa Aceh sekitar pukul 15.06 WIB tadi.
Dia mengaku kecewa dengan pelayanan PDAM Tirta Daroy. Apalagi dirinya sebagai pelanggan tidak pernah menunggak membayar iuran PDAM.
“Tidak nunggak rekening. Tarif air juga naik,” ujarnya lagi.
Kondisi serupa juga turut dirasakan warga Punge Blang Cut, Mizuar Mahdi. Ketiadaan air bersih seringkali dialami Mizuar yang telah beberapa kali melampiaskan hal itu di akun media sosial.
“(Air bersih) masih terkendala. Dari pertama sewa sekretariat tahun 2018 sampai sekarang masih sama,” ungkap Mizuar yang juga Ketua Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa).
Dia mengaku harus menunggu hingga malam untuk menampung air bersih ke bak penampungan. Menurutnya kondisi paling parah bahkan terjadi di Sekretariat Mapesa.
“Kalau di sekretariat lebih parah, di atas pukul 12 malam baru hidup (air). Itu pun kadang-kadang, kalau hidup,” ujar Mizuar.
Bukan hanya Mukhtaruddin warga Lamdom dan Mizuar warga Punge Blang Cut saja yang kesulitan mendapat air bersih dari PDAM Tirta Daroy. Sebagian warga Peurada Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, juga mengalami hal serupa.
“Baru tahu kalau siang di sini enggak hidup air (PDAM),” kata salah satu warga yang baru saja menyewa rumah di Peurada.
Apa yang dialami warga Kota Banda Aceh tersebut tampaknya masih akan bertahan lama. Pasalnya, air bersih tak lancar mengalir masih saja dialami warga meski beberapa periode pucuk pimpinan pemerintahan kota Banda Aceh sudah berganti.
Syahdan, kesulitan mendapat air bersih tersebut bahkan sempat menjadi bahan kampanye politisi dalam setiap Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Banda Aceh maupun pemilihan umum legislatif. Berbagai janji politik untuk menangani air bersih di ibu kota Aceh juga sempat dipaparkan. Namun, realisasi janji politik itu diduga masih jauh panggang dari api. Setidaknya demikian yang dirasakan Mukhtaruddin Yakob dan Mizuar Mahdi selaku pelanggan PDAM Tirta Daroy saat ini.
Guna menjawab keluhan warga Kota Banda Aceh tersebut, Bidik indonesia lantas mengonfirmasi Direktur Perumdam Tirta Daroy, T Novizal Aiyub. Sosok yang sudah lama mengampu jabatan sebagai direktur utama pada perusahaan air minum di ibu kota Aceh itu berdalih kondisi dan usia water treatment plant atau WTP ibu kota sebagai salah satu biang masalah.
“Kita masih beroperasi dengan sebahagian besar fasilitas yang dibangun 50 tahun yang lalu, WTP-nya. Jaringannya! Sementara Kota Banda Aceh terus tumbuh,” jawab T. Novizal Aiyub, Kamis petang.
Dia mengatakan peremajaan dan menambah kapasitas produksi merupakan salah satu solusi agar kualitas pelayanan PDAM Tirta Daroy tidak semakin menurun. Terlebih, instalasi pengolahan air PDAM tersebut sudah dioperasikan selama 24 jam tanpa henti.
“Hanya mati saat listrik PLN padam dan itu pun kita usahakan beroperasi dengan bantuan back-up generator. Itu sebabnya tahun ini, insya Allah kita mencoba menambah kapasitas produksi kita,” kata T Novizal Aiyub lagi.
Dia juga membantah bahwa peremajaan fasilitas pipa ke rumah-rumah pelanggan–yang pernah dilakukan di masa rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh pasca-tsunami, seharusnya dapat mengoptimalkan penyaluran air bersih di ibu kota Aceh. Menurutnya, saat itu lembaga donor yang bergerak di bidang rekonstruksi hanya merehabilitasi fasilitas penyaluran air PDAM dalam jumlah terbatas.
“Tidak ada pembangunan baru. Saat itu hanya rehabilitasi dan uprating kapasitas yang tidak seberapa. Dan itu pun sudah hampir 20 tahun yang lalu,” ujarnya.
Di sisi lain, pembangunan dan peremajaan bendung karet di Krueng Aceh yang sebelumnya sempat digadang-gadang menjadi solusi mengatasi air bersih warga ibu kota Banda Aceh juga sepertinya belum optimal.
“Bendung karet hanya berfungsi untuk kesediaan air baku! Dengan adanya bendung karet, kita bisa berproduksi di kapasitas optimal kita. Jika tidak ada bendung karet, saat musim kemarau produksi kita terpaksa turun lagi,” dalih T Novizal Aiyub.
Saat ini, Novizal mengaku pelanggan PDAM Tirta Daroy mencapai 56.000 sambungan rumah (SR). Setiap tahunnya, angka itu terus bertambah sekitar 2.000 SR. Sementara produksi air bersih PDAM Tirta Daroy tahun 2025 mencapai 40.000 hingga 50.000 M³ air per hari.
“Setiap tahunnya Pemko berusaha untuk meremajakan dan menambah fasilitas, tapi tentunya untuk bisa mengatasi secara keseluruhan (masalah penyaluran air bersih kepada pelanggan di Banda Aceh) butuh dana yang cukup besar,” lanjut T Novizal Aiyub.
Hingga saat ini, perusahaan air minum itu juga masih mengandalkan aliran air Krueng Aceh sebagai satu-satunya sumber air baku. Inilah yang diduga membuat bendung karet di Krueng Aceh menjadi objek vital fasilitas pendukung agar penyaluran air bersih kepada pelanggan “seharusnya” menjadi optimal.
Lantas bagaimana dengan sumber air baku lain? Memanfaatkan air laut menjadi layak konsumsi, misalnya. Bukankah teknologi ini pernah diperkenalkan oleh lembaga internasional di masa rehab rekon Aceh sejak dua dekade lalu? Teknologi WTP itu bahkan sudah pernah dibangun di Ulee Lheue, Banda Aceh.
Terkait hal ini, T Novizal Aiyub punya alasan tersendiri. Dia mengatakan WTP yang dibangun di masa rehab rekon Aceh itu berskala kecil.
“Itu hanya untuk air langsung minum saat itu. Kapasitasnya kecil dan biaya operasionalnya tinggi karena mengolah air laut,” tandas Novizal Aiyub mengakhiri pembicaraan.***

