Lhokseumawe|BidikIndonesia.com – Tanggal 5 Januari 2025 merupakan hari pertama dimulainya proses belajar mengajar setelah berakhirnya masa liburan semester ganjil. Di Kabupaten Aceh Utara, proses belajar mengajar ini diberlakukan beberapa skenario dampak dari musibah banjir dan tanah longsor akhir Bulan November 2025 lalu.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Dr. Irhamni mengatakan. Sesuai arahan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten ini, proses belajar mengajar di berlakukan beberapa skenario. Yang pertama bagi sekolah yang tidak terdampak bencana, maka sistem pembelajarannya berlangsung seperti biasa yakni kurikulum reguler.
Yang kedua adalah bagi sekolah yang terdampak dan sudah di bersihkan namun tidak ada mobiler, maka anak didik akan belajar secara lesehan, yang ketiga pembelajaran berlangsung di tenda bagi sekolah yang belum dilakukan pembersihan sisa banjir. Yang ke empat pembelajaran secara bergantian bagi sekolah yang sebagian ruangannya sudah di bersihkan dan yang kelima pembelajaran secara mandiri atau belajar di rumah, di pengungsian bagi murid yang sekolahnya rusak berat, hancur ataupun hilang di sapu bencana.
“Mulai hari ini ada Lima skenario pembelajaran yang Kami berlakukan dalam Proses belajar mengajar di Aceh Utara pasca bencana.”ujarnya dalam Dialog Lhokseumawe Pagi Ini di RRI Lhokseumawe, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, dari 1.073 sekolah yang ada di daerah ini, sekitar 670 terdampak bencana. Sementara 424 sekolah masih bisa belajar secara reguler, namun ratusan sekolah lainnya baik PAUD, SD dan sekolah SMP lainnya terpaksa menggunakan kurikulum darurat.
“Siswa yang terdampak bencana di Aceh Utara mencapai 74.383 orang, sedangkan Tenaga Pendidik yang terdampak mencapai 9 ribuan. Khusus untuk pembelajaran kurikulum darurat akan berlangsung hingga Jam 11.00 siang.”tambahnya.
Sementara itu Kasubbag Umum dan Humas Dinas Pendidikan Dayah Propinsi Aceh, Lutfi, ST, MSM dalam Dialog yang sama dengan tema “Pemulihan Pendidikan Pasca Banjir” menyebutkan. untuk pemulihan dampak bencana bagi dunia pendidikan khususnya proses pembersihan, jika dilakukan dengan menggunakan alat berat di nilai akan cepat teratasi, namun jika hanya mengandalkan tenaga manusia maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
“Pembersihan lumpur seharusnya tuntas, yakni harus di buang jauh dari lingkungan sekolah agar tidak mengalir lagi ke sekolah saat hujan.”sebutnya.
Untuk itu diharapkan pembersihan sekolah dan dayah ini membutuhkan bantuan alat berat, terlebih bagi daerah yang terdampak parah seperti Aceh Tamiang dan Pidie Jaya. imbuhnya.







