Aceh Tengah gerak cepat tangani penanganan bencana susulan

Banda Aceh|BidikIndonesia.com –  Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah bergerak cepat menangani setiap kejadian bencana yang melanda daerah itu, termasuk bencana susulan yang baru terjadi di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, pada Minggu (13/9).

“Langkah tanggap darurat yang telah dan terus dilakukan adalah membersihkan material longsor, serta penyiapan jalur evakuasi dan logistik bagi warga terdampak. Penanganan tersebut tetap menjadi prioritas utama di lapangan,” kata Juru Bicara Pemkab Aceh Tengah, Mustafa Kamal dihubungi dari Banda Aceh, Kamis.

Menurut dia, tanah longsor dipicu hujan lebat tersebut sempat melumpuhkan akses transportasi, karena material longsor menutup badan Jalan Takengon – Bintang tepatnya titik lokasi Pagar Merah serta Jalan Pepalang-Berawang Gading sekitar Kampung Kuyun dan merusak jembatan Armco.

Selain kerusakan infrastruktur, bencana tanah longsor tersebut juga merusak empat unit rumah warga di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah.

Ia menjelaskan untuk setiap kejadian bencana susulan yang baru terjadi, tim teknis dari instansi terkait bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan pendataan dan kaji cepat di lokasi.

Bacaan Lainnya

“Setiap dampak dari bencana susulan pascabanjir bandang dan tanah longsor akhir November 2025 tentu akan didokumentasikan dan diverifikasi secara komprehensif,” katanya.

Ia mengatakan, apabila memenuhi kriteria dan persyaratan teknis, penanganan akan diusulkan untuk masuk ke dalam skenario Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi pascabencana (PRR), baik melalui anggaran penanganan lanjutan maupun mekanisme usulan ke tingkat yang lebih tinggi.

Terkait program rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) yang sedang berjalan saat ini, seluruh perencanaan didasarkan pada asesmen komprehensif atas dampak bencana sebelumnya.

“Artinya, berbagai tahapan sedang berjalan di lapangan dan semuanya sesuai dengan hasil asesmen komprehensif atas dampak bencana sebelumnya,” katanya.

Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga telah memiliki Dokumen Kajian Risiko Bencana Kabupaten Aceh Tengah 2025-2029. Dokumen Kajian Risiko Bencana merupakan dasar dokumen perencanaan di bidang kebencanaan dan lingkungan termasuk bagi dokumen RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) yang memasukkan indikator pengurangan risiko bencana di tingkat kabupaten/kota.

Menurut dia, Kajian Risiko Bencana yang memuat berbagai gambaran umum wilayah, kebencanaan, pengkajian risiko bencana menjadi dasar agar para pemangku kepentingan memahami tentang bahaya, kerentanan dan kapasitas di wilayah masing-masing.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan selalu memantau informasi resmi dari pemerintah daerah,” katanya.

Sebelumnya, Nazila bocah sembilan tahun meninggal dunia dan 13 warga lainnya luka-luka akibat tanah longsor yang dipicu hujan deras di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (13/9).

Kabid Darlog, Damkar dan Penyelamatan BPBD Aceh Tengah, Iwan Ilham Abadi menambahkan kawasan bencana tanah longsor yang terjadi di Kampung Sanehen tersebut merupakan salah satu daerah yang ikut terdampak bencana pada akhir November 2025.

“Salah satu upaya yang kita lakukan untuk meminimalisasi dampak bencana dan mencegah jatuhnya korban jiwa adalah meningkatkan kewaspadaan terutama saat cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang berpotensi memicu tanah longsor di daerah berbukit,” katanya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *