Jakarta|BidikIndonesia.com – Yayasan Rumoh Pangan Aceh, turut serta dalam kegiatan International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026, yang mengangkat tema “Mewujudkan Potensi Pengurangan Susut dan Sisa Pangan untuk Mendukung Transformasi Ekonomi Hijau Indonesia”. Kegiatan ini berpusat di The Tribrata Hotel & Convention Center Dharmawangsa, Jakarta, pada Selasa, 29 September 2026.
Adapun egiatan tersebut diselenggarakan oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui gerakan Gotong Royong Atasi Susut dan Sisa Pangan di Tahun 2030 (GRASP 2030) bersama Kementerian PPN/Bappenas, Badan Pangan Nasional, serta berbagai mitra lainnya. Kegiatan ini menjadi ruang bagi pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, media, dan berbagai pemangku kepentingan untuk berbagi pengalaman serta mendorong kolaborasi dalam pengurangan susut dan sisa pangan.
Rumoh Pangan Aceh diwakili oleh Program Manager Rumoh Pangan Aceh, Zahlul Nugraha Meutuah menjelaskan, keikutsertaan Rumoh Pangan Aceh menjadi bagian dari upaya untuk memperluas jejaring dan berbagi pengalaman mengenai praktik penyelamatan pangan, khususnya melalui pendekatan food rescue dan food aid yang telah dikembangkan Rumoh Pangan Aceh di Aceh.
Zahlul menyampaikan bahwa pengurangan susut dan sisa pangan tidak hanya merupakan persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pemenuhan kebutuhan pangan bagi kelompok yang membutuhkan.
“Bagi Rumoh Pangan Aceh, pangan yang masih layak konsumsi seharusnya tidak berakhir sebagai sampah. Melalui food rescue, kami berupaya menyelamatkan pangan berlebih untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, untuk memperluas dampaknya, diperlukan kolaborasi dan dukungan kebijakan yang memungkinkan lebih banyak pelaku usaha untuk terlibat dalam penyelamatan pangan,” ujar Zahlul.
Menurutnya, kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam membangun ekosistem penyelamatan pangan yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan tujuan kegiatan IDAFLW 2026 yang mendorong terciptanya kolaborasi pentahelix dalam strategi pengurangan dan pengelolaan susut dan sisa pangan.
Kegiatan IDAFLW 2026 juga diisi dengan diskusi mengenai aksi pentahelix untuk mengurangi susut dan sisa pangan, kebijakan ekonomi sirkular, redistribusi pangan berlebih, pengukuran susut dan sisa pangan, serta advokasi kebijakan. Salah satu sesi secara khusus membahas pentingnya liability protection dan insentif dalam praktik penyelamatan pangan, yang menjadi bagian penting dalam mendorong keterlibatan lebih luas dari dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya.
Melalui partisipasi dalam IDAFLW 2026, Rumoh Pangan Aceh berharap dapat terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak serta membawa pembelajaran dari praktik di Aceh ke dalam diskusi nasional mengenai pengurangan susut dan sisa pangan.
Rumoh Pangan Aceh meyakini bahwa penyelamatan pangan bukan hanya tentang mengurangi sampah makanan, tetapi juga tentang memastikan pangan yang masih bernilai dapat kembali memberi manfaat bagi masyarakat dan menjadi bagian dari sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

