Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyalurkan bantuan tanggap darurat 10 ton beras ke sejumlah titik pengungsian yang membuka dapur umum di sepanjang jalan nasional Banda Aceh-Medan di Kabupaten Aceh Utara hingga dini hari.
“Kami mengantar bantuan ke semua pelosok di seluruh Aceh. Kendala dalam distribusi bantuan karena ada wilayah yang tidak dapat diakses transportasi,” kata Muzakir Manaf atau Mualem, di Aceh Utara, Minggu.
Karena tak bisa menggunakan jalur darat, Mualem terpaksa terbang dari Banda Aceh menuju Aceh Utara menggunakan pesawat, dan singgah di Pendopo Bupati Aceh Utara untuk menyerahkan bantuan secara simbolis berupa 10 ton beras dari Dinas Pangan Aceh serta paket logistik dari Triangle Pase dan BPMA.
Setelahnya, Mualem bersama rombongan langsung bergerak menyalurkan bantuan ke pengungsi yang berada di pinggir jalan nasional Banda Aceh-Medan. Titik pertama yang dikunjungi adalah Alue Gunto, Kecamatan Syamtalira Aron.
Perjalanan dilanjutkan ke wilayah Geumata dan Meunasah Reudeup di Kecamatan Lhoksukon. Setelah itu, bantuan kembali dibagikan kepada pengungsi di Keude Sampoiniet, Kecamatan Baktiya Barat, serta Panton Labu di Tanah Jambo Aye.
Di beberapa titik, banjir masih merendam jalan lintas nasional tersebut, seperti di Cot Mane, Kecamatan Baktiya, dengan ketinggian air sekitar 70 centimeter.
Mualem menyampaikan, sementara ini untuk daerah yang baru bisa dilewati kendaraan hanya sampai Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan Bireuen. Terhadap lokasi tersebut bantuan terus mengalir.
“Untuk wilayah lain akan kita tempuh lewat darat, laut, dan udara,” ujarnya.
Mualem juga menegaskan untuk listrik dan jaringan komunikasi menjadi prioritas pemulihan. Karena itu pemerintah Aceh terus berkoordinasi supaya listrik dan sinyal komunikasi bisa dipulihkan secepat mungkin.
“Kami usahakan secepat mungkin bantuan sampai kepada masyarakat terdampak,” tegas Mualem.
Sementara itu, Keuchik (Kepala Desa) Alue Gunto, M Umar, mengatakan warganya sudah empat malam mengungsi di pinggir jalan nasional. Desa ini direndam air setinggi dua meter.
“Bantuan sangat kami butuhkan karena disini tidak ada barang. Beras yang sudah kena air itu kami masak. Baru malam ini bantuan datang. Sekitar 120 KK mengungsi,” katanya.
Dalam kesempatan ini, salah seorang pengungsi di Meunasah Reudeup, Mudar, menyatakan bahwa kondisi banjir di kampungnya belum juga surut hingga hari ini.
“Ini malam kelima kami mengungsi di sini. Ketinggian air setinggi dada hingga kepala orang dewasa,” demikian Mudar.
Seperti diketahui, bencana hidrometeorologi baik banjir maupun longsor terjadi sejak 18 November 2025 telah, berdampak pada 16 dari 23 kabupaten/kota se Aceh.
Data sementara dari Posko Tanggap Darurat bencana banjir dan longsor Aceh, mencatat sebanyak 87.550 kepala keluarga terdampak dan 52.162 kepala keluarga mengungsi yang tersebar di 184 titik.
Musibah tersebut ikut menelan korban jiwa dengan data sementara meninggal dunia sebanyak 70 orang. Data tersebut kemungkinan akan bertambah mengingat jalur komunikasi masih terputus dengan daerah banjir.
