Mualem Dorong Pemulihan Sawah Pascabencana di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang|BidikIndonesia.com– Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengikuti panen padi perdana di lahan terdampak bencana di Aceh Tamiang. Kegiatan berlangsung di Gampong Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Selasa 13 Oktober 2026, sebagai bagian dari pemulihan sektor pertanian.

Banjir yang melanda Aceh tahun lalu mengakibatkan sekitar 57 ribu hektare lahan sawah mengalami kerusakan ringan, sedang, hingga berat. Panen perdana tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memulihkan aktivitas pertanian dan meningkatkan produktivitas lahan terdampak.

Dalam kegiatan tersebut, Mualem menyerahkan bantuan satu unit traktor crawler kepada Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Buket Mata Ie. Petani juga menerima bantuan dua ton pupuk Nitrea dari PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) untuk mendukung kegiatan pertanian.

Mualem berharap panen padi tersebut memberikan hasil memuaskan bagi petani yang lahannya terdampak bencana. Pemerintah Aceh juga akan memperhatikan kebutuhan petani, terutama perbaikan infrastruktur irigasi untuk mendukung pengairan sawah.

“Kita harapkan panen ini dapat memuaskan, seperti yang kita harapkan untuk kemudian hari. Kita doakan supaya panen lebih baik lagi. Fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan petani Insya Allah kita perhatikan, jadi tidak lagi pakai pompa, kita beralih ke irigasi yang layak,” ujar Mualem.

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan, pemerintah akan mengupayakan perbaikan lahan sawah terdampak bencana di seluruh kabupaten dan kota di Aceh. Upaya tersebut diharapkan membantu petani kembali mengelola lahan secara optimal sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian.

“Ini sebenarnya janji pusat, sawah-sawah yang terkena musibah kami upayakan dapat dibetulkan di seluruh kabupaten kota di Aceh,” pungkasnya.

Dukungan alat dan mesin pertanian, pupuk, serta perbaikan irigasi diharapkan mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan petani untuk mendukung keberlanjutan produksi pangan di Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *