Penulis: Rizky Kinenara Darussalam
Generasi Z hidup di tengah perkembangan teknologi yang memudahkan banyak hal, termasuk akses ke layanan keuangan dan investasi. Hanya dengan smartphone, seseorang kini bisa menabung, membeli emas digital, berinvestasi di reksa dana, hingga membeli saham. Kemudahan ini membuka peluang bagi generasi muda untuk membangun kemandirian finansial sejak dini.
Namun, di balik kemudahan itu ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Gaya hidup konsumtif, dorongan mengikuti tren media sosial, budaya fear of missing out (FOMO), dan keinginan untung cepat dapat memengaruhi keputusan keuangan anak muda.
Tidak sedikit yang lebih tertarik terlihat sukses secara finansial daripada benar-benar membangun kondisi keuangan yang sehat. Maka muncul pertanyaan penting: bagaimana Gen Z bisa mencapai financial freedom sekaligus memastikan hartanya diperoleh dan dikembangkan sesuai prinsip syariah? Jawabannya tidak hanya terletak pada besarnya penghasilan atau tingginya keuntungan investasi.
Yang lebih menentukan adalah kemampuan mengelola keuangan secara disiplin,
memilih instrumen investasi yang tepat, dan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai landasan setiap keputusan finansial. Financial Freedom Bukan Sekadar Menjadi Kaya
Kebebasan finansial sering dipahami sebagai kondisi ketika seseorang bergelimang harta, tidak perlu bekerja lagi, atau bisa membeli apa pun yang diinginkan. Padahal maknanya jauh lebih luas.
Bagi generasi muda, kebebasan finansial bisa dimulai dari kemampuan memenuhi kebutuhan hidup tanpa terus bergantung pada utang, memiliki dana darurat untuk keadaan tak terduga, mempersiapkan pendidikan dan karier, serta membangun aset untuk masa depan. Dengan kondisi keuangan yang lebih sehat, seseorang punya keleluasaan menentukan pilihan hidup berdasarkan tujuan dan prioritasnya, bukan karena tekanan ekonomi.
Dalam perspektif Islam, tujuan ini dapat dikembangkan lebih jauh. Keberhasilan finansial tidak hanya soal jumlah harta yang dikumpulkan, tetapi juga cara memperoleh, mengelola, dan memanfaatkannya. Islam mengajarkan keseimbangan dalam membelanjakan harta, sebagaimana tercermin dalam Surah Al-Furqan ayat 67: hindari sikap berlebihan, tetapi juga jangan terlalu kikir.
Karena itu, financial freedom bagi Gen Z sebaiknya tidak berhenti pada kebebasan menikmati kekayaan. Ia perlu diarahkan untuk membangun kehidupan yang mandiri, bertanggung jawab, dan bermanfaat.
Mengapa Gen Z Perlu Mengenal Investasi Syariah? Literasi keuangan adalah salah satu alasan terpenting.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 39,11%, sementara indeks inklusi keuangan syariah baru mencapai 12,88%. Angka ini menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat pemahaman dan pemanfaatan layanan keuangan syariah di
Indonesia.
Investasi syariah dapat menjadi alternatif bagi generasi muda untuk menyiapkan masa depan finansial tanpa mengabaikan prinsip Islam. Instrumennya mengedepankan kesesuaian dengan ketentuan syariah, mulai dari kegiatan usaha, akad, hingga mekanisme transaksi. Meski demikian, perlu dipahami bahwa investasi syariah bukan berarti selalu untung atau bebas risiko rugi.
Nilai investasi tetap bisa naik maupun turun, tergantung karakteristik instrumen
dan kondisi pasar. Keputusan berinvestasi harus didasari pemahaman yang memadai, bukan sekadar ikut tren atau mengharapkan keuntungan besar dalam waktu singkat.
Mengenal Produk Investasi Syariah
Ada beberapa instrumen yang dapat dipelajari Gen Z sesuai tujuan keuangan, kemampuan finansial, dan toleransi risiko:
• Reksa dana syariah. Cocok bagi pemula karena dana dikelola manajer investasi dan
ditempatkan pada portofolio yang mengikuti ketentuan syariah. Risiko dan potensi keuntungannya tetap bergantung pada jenis reksa dana yang dipilih.
• Saham syariah. Investor memiliki bagian kepemilikan pada perusahaan yang
memenuhi kriteria syariah. Cocok dipertimbangkan untuk jangka panjang, tetapi menuntut pemahaman tentang kondisi perusahaan, valuasi, dan risiko fluktuasi harga.
• Sukuk. Instrumen keuangan syariah dengan struktur dan dasar transaksi yang sesuai ketentuan syariah. Sukuk negara, misalnya, dapat dipelajari oleh investor yang ingin
mengenal alternatif dengan karakteristik imbalan dan jangka waktu tertentu. Pahami
dulu jenis, ketentuan imbalan, risiko, dan likuiditasnya sebelum membeli.
• Emas. Bisa menjadi sarana diversifikasi dan penyimpan nilai jangka panjang. Namun harga emas berfluktuasi, dan selisih harga beli dan jual perlu diperhitungkan.
Tidak ada satu instrumen yang paling tepat untuk semua orang. Pilihan perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menanggung risiko.
Periksa pula legalitas penyedia layanan dan kesesuaian produk dengan prinsip syariah.
Lima Langkah Gen Z Membangun Financial Freedom Kebebasan finansial tidak datang dalam semalam. Ia membutuhkan proses yang terencana dan kebiasaan yang konsisten.
1. Bangun fondasi keuangan yang sehat. Catat penghasilan, pengeluaran, kewajiban,
dan aset. Siapkan dana darurat agar kebutuhan mendesak tidak memaksa Anda menjual investasi di waktu yang kurang tepat.
2. Tetapkan tujuan keuangan yang jelas. Pendidikan lanjutan, rumah, usaha, atau
pensiun masing-masing butuh perencanaan berbeda. Tujuan membantu menentukan
berapa dana yang disisihkan dan instrumen apa yang sesuai.
3. Berinvestasi secara rutin sesuai kemampuan. Tidak perlu menunggu berpenghasilan besar. Sisihkan dana secara konsisten setelah kebutuhan pokok dan kewajiban terpenuhi, sesuai kondisi masing-masing, bukan mengikuti nominal yang dipamerkan orang lain.
4. Tingkatkan literasi dan kendalikan emosi. Pahami risiko, biaya, mekanisme
transaksi, dan karakteristik produk. Jangan mengambil keputusan karena FOMO, janji
keuntungan tak realistis, atau rekomendasi yang belum terverifikasi.
5. Jaga prinsip syariah dalam setiap keputusan. Perhatikan kesesuaian akad, hindari transaksi yang dilarang, dan pilih produk serta penyedia layanan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ini bagian penting dari pengelolaan harta yang tidak hanya
mengejar hasil finansial, tetapi juga menjaga integritas.
Mencari Keberkahan, Bukan Hanya Keuntungan Dalam manajemen keuangan syariah, harta tidak semata dipandang sebagai alat memenuhi kebutuhan pribadi. Harta juga berkaitan dengan amanah, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Karena itu, membangun kebebasan finansial sebaiknya tidak berhenti pada akumulasi aset. Penghasilan yang halal, pengeluaran yang terukur, investasi yang sesuai syariah, dan
pemenuhan kewajiban sosial adalah bagian dari upaya mengelola harta secara bertanggung jawab. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf memiliki kedudukan masing-masing dalam Islam dan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan sesuai ketentuan serta kemampuan.
Kepedulian sosial bukan aktivitas yang menunggu seseorang kaya, melainkan nilai yang perlu hadir sepanjang perjalanan membangun kesejahteraan. Keberkahan sendiri tidak bisa diukur dari besarnya keuntungan atau saldo rekening. Ia adalah nilai spiritual yang berkaitan dengan kebaikan, kemanfaatan, dan penggunaan harta sesuai tuntunan agama.
Maka tidak tepat memandang investasi syariah sebagai jaminan keuntungan material atau jaminan bahwa semua risiko hilang. Investasi syariah adalah ikhtiar mengembangkan harta dengan cara yang sesuai prinsip Islam; hasilnya tetap bergantung pada banyak faktor, sementara orientasi keberkahan diwujudkan lewat niat, cara, tanggung jawab, dan pemanfaatan harta. Saatnya Mempersiapkan Masa Depan Sejak Sekarang Gen Z memiliki kesempatan membangun fondasi keuangan sejak usia muda. Kesempatan itu perlu diimbangi pengetahuan, kedisiplinan, dan kemampuan mengambil keputusan yang rasional. Financial freedom tidak harus dimulai dari modal besar. Mulailah dari kebiasaan sederhana:
mencatat pengeluaran, menghindari utang yang tidak produktif, menyiapkan dana darurat, menetapkan tujuan keuangan, dan mempelajari investasi yang sesuai prinsip syariah.
Pada akhirnya, keberhasilan finansial bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang terkumpul, tetapi juga bagaimana harta itu diperoleh, dikelola, dan memberi manfaat bagi kehidupan. Dengan menggabungkan perencanaan keuangan yang baik, investasi yang bijaksana, dan komitmen pada nilai-nilai Islam, kebebasan finansial dapat dikejar tanpa kehilangan orientasi moral dan spiritual.
Sebab tujuan akhir pengelolaan keuangan bukan sekadar hidup dengan lebih banyak harta, melainkan membangun kehidupan yang mandiri, bertanggung jawab, dan insyaallah penuh keberkahan.
Daftar Pustaka
Otoritas Jasa Keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan
2024.https://ojk.go.id/id/Fungsi-Utama/Perilak-Pelaku-Usaha-Jasa-Keuangan/SNLIK/Pages/Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-2024.aspx.
Otoritas Jasa Keuangan. LIKE IT Ajak Generasi Muda Berinvestasi Menuju Masa Depan Cerah.https://ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/LIKE-IT-Ajak-Generasi-Muda-Berinvestasi-Menuju-Masa-Depan-Cerah.aspx
Al-Qur’an, Surah Al-Furqan ayat 67, tentang keseimbangan dalam membelanjakan harta.

