Banda Aceh|BidikIndonesia.com– Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengungkapkan para pengungsi yang menjadi korban banjir bandang dan tanah longsor di Aceh kondisinya sangat memprihatinkan.
Menurut pria yang juga dikenal sebagai Mualem itu, korban meninggal terus berjatuhan bukan karena banjir, melainkan karena kelaparan.
“Mereka meninggal bukan meninggal (karena) banjir, (tapi) mati kelaparan,” kata Mualem di Aceh.
Mualem membeberkan daerah-daerah yang paling urgen membutuhkan bantuan pangan atau sembako pascabencana banjir dan longsor yang melanda daerah tersebut.
“Yang paling urgen (membutuhkan bantuan) ialah Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Aceh Timur, dan Kabupaten Aceh Utara, itu paling urgen,” ujarnya.
Menurut Mualem, penyaluran bantuan untuk tiga kabupaten tersebut masih mengalami kendala karena aksesnya yang terputus.
“Mereka tidak dapat kita salurkan bantuan ke pedalaman, kadang masih banjir dan juga jembatan putus,” ujarnya.
Karena sebab itu, kata dia, sejumlah bantuan untuk daerah-daerah tersebut tengah diupayakan penyalurannya menggunakan perahu karet.
Ia pun menambahkan, pihaknya terus bekerja aktif menyalurkan bantuan kepada daerah-daerah yang membutuhkan.
Menurut data dari laman BNPB per 6 Desember 2025 pukul 16.30 WIB, jumlah korban meninggal dunia imbas banjir di Provinsi Aceh sebanyak 353 jiwa.
Selain itu, BNPB mencatat terdapat 115 orang masih hilang dan 3,5 ribu jiwa terluka akibat bencana banjir yang terjadi di Aceh.
BNPB juga mencatat ada 18 kabupaten di Aceh yang terdampak. Terkait kerusakan yang terjadi imbas banjir, BNPB mencatat ada 97,4 ribu rumah rusak.
Selain itu, 585 fasilitas umum, 201 rumah ibadah, 126 fasilitas kesehatan, 205 gedung/kantor, 258 fasilitas pendidikan, dan 312 jembatan juga mengalami kerusakan.
