Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Bupati Aceh Besar Muharram Idris menyebutkan seluas 2.125 hektare lahan sawah di daerah tersebut terdampak kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda kabupaten itu.
“Sektor pertanian merupakan penopang utama perekonomian masyarakat di Aceh Besar. Dampak kekeringan yang terjadi saat ini tidak hanya mempengaruhi ketersediaan air, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat,” kata Muharram Idris di sela-sela menjadi pembina Apel Siaga Bencana Hidrometeorologi kekeringan di Jantho, Rabu.
Ia menyebutkan, berdasarkan hasil pendataan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, hingga saat ini dampak kekeringan terdampak 19 kecamatan yang mencakup 182 desa/gampong, dengan luas lahan persawahan terdampak mencapai sekitar 2.125,69 hektar yang terdiri atas kategori ringan, sedang, berat dan puso.
‘Data tersebut menjadi peringatan, bahwa ancaman kekeringan bukan lagi sekadar prediksi, tetapi telah menjadi kondisi nyata yang memerlukan langkah cepat, tepat, dan terkoordinasi,” katanya.
Berdasarkan informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal. BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir tahun 2026 yang berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.
“Sejalan dengan hal tersebut, BNPB juga terus mengingatkan pemerintah daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan melalui langkah-langkah mitigasi, penguatan koordinasi lintas sektor, pengamanan ketersediaan air bersih, perlindungan sektor pertanian, serta kesiapan penanganan apabila terjadi kondisi darurat,” katanya.
Menurut dia, Apel Siaga yang dilaksanakan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan merupakan bentuk kesiapsiagaan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi kering yang saat ini mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Bupati Aceh Besar mengajak seluruh perangkat daerah, TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan gampong, dunia usaha, relawan, dan seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apa pun, memperkuat patroli di wilayah rawan, serta segera melaporkan apabila ditemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Ia juga mengimbau kepada seluruh camat, keuchik/kepala desa, dan aparatur gampong agar terus melakukan pemantauan wilayah masing-masing, segera melaporkan apabila terjadi perkembangan kondisi kekeringan, serta mengedukasi masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana dan menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia. “Keberhasilan penanggulangan bencana tidak hanya bergantung pada pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat. Semangat gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan merupakan modal utama dalam menghadapi setiap ancaman bencana,” demikian Muharram Idris.
