Banjir Luapi 9 Kecamatan di Aceh Tamiang, Berikut Data Terkini

Aceh Tamiang|Bidik indonesia.com – Banjir akibat hujan deras berdurasi panjang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang, sejak Sabtu (10/10) hingga Minggu (11/10) malam kian meluas. Data terbaru Pusdalops PB BPBD Kabupaten Aceh Tamiang per Senin (12/10/26) pukul 22.45 WIB mencatat sembilan kecamatan terendam air, merusak tanggul penahan, memutus akses jalan antar-kecamatan, serta menggenangi puluhan hektar sawah warga.

Meski di sejumlah wilayah daratan tinggi air mulai berangsur surut, debit air di beberapa wilayah hilir dan daerah aliran sungai justru meningkat tajam. Pemkab Aceh Tamiang memastikan hingga saat ini tidak ada korban jiwa dalam bencana ini.

Bencana kali ini diperparah oleh kerusakan infrastruktur vital penahan air. Di Kampung Marlempang, Kecamatan Bendahara, tanggul penahan air jebol sepanjang 15 meter sehingga merendam 15 unit rumah, 22 hektar sawah, dan 500 meter jalan kampung dengan ketinggian air 10-30 cm. Sementara di Kampung Raja, tanggul penahan banjir dilaporkan mengalami kerusakan serius dan terdapat rembesan air.

Sementara itu, akses jalan antar-kecamatan yang menghubungkan Tebing Tinggi ke Simpang Kiri, Kecamatan Tenggulun, lumpuh total tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Di Kampung Suka Makmur, Kecamatan Kejuruan Muda, jalan antar-kecamatan terendam sepanjang 1.850 meter dengan ketinggian air mencapai 80 cm. Selain itu, badan jalan lintas Seruway-Rantau dan jalan antar-kampung Pulau Tiga-Kaloy terganggu akibat banjir dan ablasi.

Selanjutnya, sekitar 20 hektare sawah di Kampung Suka Makmur, Kejuruan Muda, 15 hektare di Kampung Balai, dan 20 hektar di Kampung Lubuk Batil, Kecamatan Bendahara, terendam air. Di sektor pendidikan dan keagamaan, banjir merendam komplek Pesantren Darul Mukhlisin di Kampung Tanjung Karang serta Mushala Muhammadiyah yang kini dijadikan tempat pengungsian sementara.

Bacaan Lainnya

Juru Bicara Pemkab, M. Farid menyebutkan, Tim TRC BPBD, Rescue, Dinas Damkarmat, dan Satgas SAR Aceh Tamiang terus melakukan pemantauan, pendataan, dan evakuasi di titik-titik terdampak. Disebutkannya, di Kecamatan Tenggulun, air berangsur surut di Kampung Simpang Kiri (102 rumah terendam, 83 KK mengungsi di timbangan PT Evans dan rumah kerabat) dan Kampung Tenggulun (34 rumah terendam, 100 KK mengungsi, air 50–100 cm). Namun di Kampung Sumber Makmur, Dusun Tualang Tukul, Sumber Rejo, dan Sungai Rengas masih terendam hingga ketinggian 1 meter (206 rumah terendam, 33 KK mengungsi). Di Kampung Tebing Tinggi, 86 rumah terendam dan 106 jiwa mengungsi di jalan lintas serta rumah kerabat. Di Kampung Rimba Sawang, sebanyak 220 unit rumah terendam di tiga dusun.

Kemudian, kondisi di Kecamatan Tamiang Hulu, dilaporkan bahwa debit air di Kampung Rongoh terus bertambah hingga ketinggian 1,5 meter. Sebanyak 45 KK (124 jiwa, termasuk 16 balita) mengungsi ke lokasi lebih tinggi di Bukit Kandang Ayam dan Dusun Suka Jaya. Sementara di Kampung Kaloy terjadi ablasi pada badan jalan lintas.

Seterusnya, di Kecamatan Kejuruan Muda, mulai dari Kampung Kebun Sungai Liput, 37 KK (145 jiwa) mengungsi di TPH Sawit Kebun Baru, Dusun Alur Hitam, dan Mopoli. Di Kampung Seumadam, air mencapai 1,3 meter merendam 9 rumah (4 KK/17 jiwa mengungsi di TPA). Di Kampung Bukit Rata, 61 rumah terendam (171 jiwa terdampak, air 30–60 cm). Sementara di Kampung Alur Selebu air mulai surut dan sebagian warga kembali ke rumah.

Dijelaskan, kondisi banjir di Kecamatan Kota Kualasimpang, yakni Kampung Kota Lintang, sebanyak 172 rumah terendam (250 KK terdampak, termasuk penghuni Huntara PU III Bukit Rata dan Huntara BNPB Tanjung Mancang). Warga mengungsi di rumah keluarga, halaman Mushala Muhammadiyah, dan area jalan menuju SMA 2 Kejuruan Muda. Di Kampung Sriwijaya, 19 rumah dan 5 unit Huntara Insitu terendam (28 KK / 68 jiwa terdampak, 3 KK mengungsi).

Kondisi banjir di Kecamatan Karang Baru, yakni Kampung Tanjung Seumantoh, 30 rumah terendam air (37 KK / 111 jiwa terdampak, termasuk 6 balita dan 5 lansia). Di Kampung Sukajadi, genangan air sekitar 30 cm memaksa warga mengungsi ke tempat lebih tinggi. Di Kampung Tanjung Karang, air merendam komplek Pesantren Darul Mukhlisin.

Dilaporkan, kondisi banjir di Kecamatan Bendahara, yaitu di Kampung Balai, air merendam 240 rumah (ketinggian 50–60 cm), berdampak pada 325 KK (1.010 jiwa) di mana 115 KK terpaksa mengungsi ke rumah Datok Penghulu dan sanak saudara. Di Kampung Lubuk Batil, 25 rumah terendam (5 KK / 35 jiwa mengungsi). Di Kampung Rantau Pakam, 19 rumah terendam (23 KK / 89 jiwa terdampak).

Di Kecamatan Seruway, terutama di Kampung Gelung, air merendam 15 rumah dan warga telah mendirikan dapur umum mandiri. Di Kampung Padang Langgis, air menggenangi permukiman dan badan jalan lintas Seruway–Rantau. Kondisi terkini di Kecamatan Rantau, dilaporkan air mulai memasuki permukiman di Kampung Alur Manis, Alur Cucur (9 rumah terendam), dan Kampung Landuh.

Terakhir kondisi banjir di Kecamatan Bandar Pusaka, air dilaporkan telah surut penuh dan kondisi permukiman kembali kondusif.

Farid menegaskan bahwa bantuan logistik, sarana-prasarana penanggulangan bencana, serta pembersihan drainase yang tersumbat menjadi kebutuhan yang sangat mendesak saat ini untuk melayani para pengungsi. ( Poris )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *